Melengkapi working-habbit posting series di beberapa posting terakhir, saya pengen curhat masalah lembur. Yah, overtime adalah hal yang biasa di lingkungan kerja. Begitu biasanya sampai ada yg beranggapan kalau ngga overtime berarti ngga kerja. Saya juga termasuk dalam kategori overtimer. Yg artinya tukang lembur (dulu sih, beberapa tahun yg lalu), tetapi, setelah mendapat sedikit wejangan dari almarhum teman kos saya pas di Jkt, kebiasaan itu hilang.

Kata2 yg paling kuat saya ingat sampai sekarang adalah: "Hidup itu ngga cuman kerja"

He eh. Selain kerja kita juga perlu yg namanya kumpul ma keluarga atau teman2. Bermain atau melakukan kegiatan lain semacam arisan, ronda malem, kerja bakti, tahlilan, dll. Juga selain kegiatan, hidup itu juga ada yg namanya istirahat.

Mengapa Lembur itu Sucks?

Beberapa alasan yg bisa saya sebutin mengapa lembur itu Sucks!

  1. Hasil kerja saat lembur ngga akan lebih baik dari hasil kerja biasa. Bisa jadi malah banyak bugs dan errornya, yg akhirnya hrs dibenerin di lain waktu.
  2. Kerjaan kita akan nambah, karena dalam sehari, volume pekerjaan yg kita selesaikan akan bertambah dan yg namanya kerjaan ngga akan ada selesainya. Akhirnya load kita akan lebih banyak.
  3. Gaji anda akan menjadi lebih kecil. (bagi aja jam kerja dengan jumlah gaji)
  4. Membuat kita malas saat jam kerja reguler, secara selalu bisa diselesaikan overtime kan?
  5. Lupa teman, saudara, tetangga dan kondisi sekitar.

Itu sih alasan saya mengapa lembur itu sucks dan sebisa mungkin akan saya hindari. Mungkin anda punya tips untuk menghindari lembur, silahken di posting. Atau anda adalah pe-lembur sejati yang merasakan untungnya lembur, monggo juga.. saya open kok.

NB:
Ini bukan sindiran. Posting terakhir saya mengundang reaksi dari beberapa orang teman sehingga ga mau ngebuzz lagi. Padahal buzz nya yg ditunggu2 ;))