Bagi seorang programmer, produktifitas coding itu penting. Seberapa cepat dan benar kita mengerjakan sebuah task yg di assign. Dan produktifitas programmer itu — menurut saya nih, sangat bergantung dengan mood si programmer itu juga. Jadi klo ga mood ya ga bisa coding. Mo dipaksa sekuat apapun, hasilnya malah jeblok. Dan bagi saya, membangkitkan mood coding itu susah. Dari hasil pengamatan saya, saya itu mood nya untuk coding justru antara jam 21:00 – 02:00. Nah lo, sedangkan jam kerja saya antara 8:30 – 17:30. Jadi, membangun mood coding dipagi hari itu susah banget. Harus melalui beberapa ritual dulu semacam:

  • Boosting kafein
  • Bikin playlist yg cocok buat coding
  • Baca2 informasi yg penting

Baru setelah sekitar 1 jam pemanasan di depan leptop, mood coding akan muncul. Tetapi, alangkah sialnya, jika saat on-fire dengan keyword dan logic saya, sebuah msg muncul di YM saya. Trouble this, read that email, ada bug di sini, koneksi telco XXX lagi bermasalah. Thats one, kemudian selang beberapa menit, telpon masuk…. Ga diangkat salah, diangkat mood coding ilang. Serba salah… wasted 10 menit untuk mikir angkat atau ga. Tiung…. mood coding turun lagi. Felt clueless… noleh kanan, noleh kiri… lari kebelakang, rokok 1 batang…

Alangkah indahnya apabila ada jam2 tertentu dimana seorang programmer diperbolehkan untuk memprogram. Dan ada jam2 lain dimana dia harus debug aplikasinya. Dan ada jam2 lain dimana dia harus membantu untuk retrieve data yang sebenernya cuman series of SQL statement, dan ada jam2 lain dimana dia boleh mengangkat telpon. Tambah lagi: alangkah indahnya apabila seorang manajer menguasai sintaks SQL, jadi dia tidak perlu merepotkan programmernya untuk membuat sebuah laporan kecil, atau ada jam2 khusus dimana programmer tidak harus mereply email / membaca SMS / mengangkat telpon hanya untuk mendengarkan omongan masalah business prospect dan projection.