Barusan melihat ulasan tentang "Tapir yang lari ke perkampungan di Jambi" dan "Ular di Goa2 Nusakambangan" di Trans 7. ada sesuatu yang membuat saya ilfil dengan stasiun TV satu ini.

Ceritanya 1:
Seekor tapir yang lari ke perkampungan. Tapir itu kemudian ditangkap oleh warga, dikalungi sling — semacam tali yang terbuat dari logam yang biasa untuk "nggeret mobil" dan dibuat tontonan. Pengunjung ditarik Rp.1000/orang untuk menonton dengan alasan biaya pemeliharaan.
Komentar:
Apa hak warga untuk mengikat tapir tersebut dan menjadikannya tontonan? Ditambah lagi dengan menarik Rp1000 untuk biaya pemeliharaan? Siapa yang menyuruh untuk memelihara binatang tersebut? Wangsit dari mana? Tahukah kalau tapir tersebut sudah langka dan hampir punah? Ilfil deh.

Ceritanya 2:
Reporter trans7 dan crew nya menjelajah Goa2 di Nusakambangan, niatnya untuk membuktikan apa benar ada Ular King Cobra di sana. Ternyata emang benar. Goa tersebut dihuni oleh berbagai macam ular. Kemudian musik thriller, adegan menangkap ular. Sampai saat ini saya masih belum jelas motif menangkap ular tersebut. Kemudian setelah tertangkap, eh dimasukkan karung dan acara selese.

Komentar:
Nih stasiun TV acaranya ga di screening yah. Masa aktifitas menangkap ular ditayangin? Bisa kasih ide orang2 untuk berlomba2 menangkap ular di situ? Lagian ngapain sih nangkep ular? kurang kerjaan yah? Secara ular tersebut sudah nyaman di sana dan itu emang habitatnya.

Ditulis setelah menonton berita di Trans7, Rabu 7 November 2007 @ 12am – 1am.